Senin, 30 Mei 2016

contoh makalah diare dan hipertensi

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat TUHAN yang Maha Esa. Karena berkat perlindungannya sehingga kami dapat menyelesaikan kegiatan prakerin ini dan dapat menyusun laporan prakerin ini, dengan dilaksanakannya praktek kerja industri diharapkan dapat menambah pengetahuan kita sebagai seorang calon perawat agar pada kedepannya skill kita semakin meningkat. Dengan diadakannya prakerin ini siswa dapat semakin memahami, mengerti dan dapat mengaplikasikannya dalam diri pribadi . Pangkalan bun, Penyusun Ayu Nur Azizah DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN............................................................................................. ii KATA PENGANTAR..................................................................................................... 1 DAFTAR ISI.................................................................................................................... 2 BAB I PENDAHULUAN............................................................................................... 3 A.Latar belakang Praktek Kerja Industri B.Tujuan Praktek Kerja Industri C.Manfaat Praktek Kerja Industri D.Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktek Kerja Industri BAB II TINJAUAN UMUM PUSKESMAS................................................................. 5 A.Pengertian Puskesmas B.Tugas dan Fungsi Puskesmas C.Ketentuan Umum Peraturan Perundang-undangan Puskesmas D.Persyaratan Puskesmas BAB III TINJAUAN TEMPAT PRAKERIN................................................................ 7 A.Tinjauan Puskesmas Semanggang 1. Sejarah dan Perkembangan Puskesmas 2. Tata Ruang dan Pelayanan Puskesmas 3. Struktur Organisasi Puskesmas B. Tinjauan Puskesmas Semanggang 1. Sejarah dan Perkembangan Puskesmas 2. Tata Ruang dan Pelayanan Puskesmas 3. Struktur Organisasi Puskesmas BAB IV PEMBAHASAN.............................................................................................. 16 BAB V PENUTUP.......................................................................................................... 33 DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 34 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang PRAKERIN Praktek kerja industri atau biasa disingkat prakerin adalah salah satu cara menyelenggerakan pendidikan dan pelatihan kejuruan dimana khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mana peserta didik akan terjun langsung di lapangan kerja secara real dan sesuai dengan bidang yang diambil. Serta siswa akan memperoleh kemampuan yang lebih ketika melakukan kegiatan bekerja langsung di lapangan serta melatih setiap kemampuan setiap masing-masing individu. B. Tujuan PRAKERIN 1. Meningkatkan mutu dan melevansi pendidikan kejuruan melalui peran dunia industri atau usaha 2. Menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta etos kerja yang sesuai dengan tututan lapangan pekerjaan 3. Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan itu 4. Menghasilkan sikap yang menjadi bakat dasar pengembangan diri secara berkelanjutan C. Manfaat Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) 1. Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan ilmu serta skill yang dimiliki 2. Mengajarkan perlunya semangat dan disiplin di dunia kerja 3. Mampu melihat hubungan dunia pendidikan dan dunia kerja 4. Mampu menggunakan pengalaman kerjanya untuk mendapatkan kesempatan kerja yang diinginkannya setelah menyelesaikan pendidikan D. Tempat dan Waktu Pelaksanaan PRAKERIN Tempat pelaksanaan praktek kerja industri pada gelombang I adalah puskesmas semanggang yakni dari tanggal 24 Juni – 02 agustus 2014. Sedangkan untuk gelombang II adalah puskesmas arut selatan yakni mulai tanggal 21 agustus – 27 september 2014. Dilaksanakan setiap hari senin, selasa, rabu, kamis, jum’at, sabtu, sesuai jadwal yang sudah di sepakati antara pembimbing sekolah dan pembimbing lapangan. BAB II TINJAUAN UMUM PUSKESMAS A. Pengertian Puskesmas Menurut Depkes 1991, Suatu kesatuan organisasi fungsional yang merupakan pusat pengembangan keseha tan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. B. Tugas dan Fungsi Puskesmas Ada pun tugas dan fungsi puskesmas sebagai berikut : a. Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. b. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat. c. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya. C. Ketentuan Umum Peraturan Perundang - Undangan Puskesmas A. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. B. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2068). C. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1963 Nomor 79, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2576). D. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). D. Persyaratan Puskesmas 1. Persyaratan Umum a. Kebutuhan akan adanya Puskesmas, antara lain pada : 1) Wilayah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan. 2) Kecamatan pemekaran yang tidak mempunyai Puskesmas. 3) Kepadatan penduduk tinggi, jumlah penduduk lebih dari 30.000 penduduk. 4) Wilayah kerja sangat luas. 5) Relokasi Puskesmas yang disebabkan adanya bencana alam, jalur hijau ,perubahan Rencana Tata Ruang/ Wilayah, atau terjadinya masalah hukum pada lokasi fisik bangunan. b. Lokasi Puskesmas : 1) Di area yang mudah terjangkau baik dari segi jarak mau pun sarana transportasi, dari seluruh wilayah kerjanya. 2) Pertimbangan lainnya yang ditetapkan oleh daerah. c. Persyaratan Puskesmas : 1) Adanya telaahan kebutuhan Puskesmas. 2) Ketersediaan tenaga kesehatan oleh Pemda. 2. Persyaratan Teknis a. Luas lahan dan bangunan Jumlah sarana dan ruangan tergantung jenis pelayanan/kegiatan yang dilaksanakan guna memberikan pelayanan yang optimal. b. Denah tata-ruang Rancangan tata-ruang/bangunan agar memperhatikan fungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan. Denah tata-ruang mengacup ada buku Pedoman Peralatan dan Tata Ruang Puskesmas, Ditjen Bina Kesmas tahun 2006. c. Peralatan kesehatan Kebutuhan minimal peralatan kesehatan mengacup ada buku Pedoman Peralatan dan Tata Ruang Puskesmas, Ditjen Bina Kesmas tahun 2006. BAB III TINJAUAN TEMPAT PRAKERIN A. Tinjauan Puskesmas Semanggang 1. Sejarah dan Perkembangan Puskesmas Semanggang Puskesmas semanggang didirikan pada tanggal 1 pebruari 1991 dengan tanpa tempat tidur. Tahun 1992 terjadi penambahan Ruang Rawat Inap dengan kapasitas 10 tempat tidur dan statusnya berubah menjadi Puskesmas Rawat Inap. Tahun 1997 terjadi penambahan ruang kelas I dan kelas II sebanyak 6 tempat tidur. Visi dan Misi Puskesmas Semanggang Visi : Mewujudkan pelayanan kesehatan yang paripurna dan bermutu untuk mencapai kecamatan sehat 2010. Misi : 1. Meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan dengan pemberdayaan secara berkesinambungan. 2. Memaksimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. 3. Memberdayakan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan. Motto : Anda Puas kami bangga. Keyakinan dasar Puskesmas Semanggang 1. Mutu adalah unsur utama dalam melayani pasien. 2. Prosedur pelayanan yang mudah serta tidak berbelit belit akan menyenangkan pasien. 3. Sikap ramah dan propesional akan membantu pasien untuk mencapai kesembuhan dan kepuasan. 4. Saran dan kritik dari masyarakat akan membuat kami akan kekurangan yang ada sehingga kami senantiasa memperbaikinya. Apresiasi yang pernah dicapai 1. Puskesmas berprestasi I se-kobar 2. Juara Harapan I ASAH TRAMPIL Posyandu se-kobar 3. Juara II Lomba Toga se-kalteng 4. Teladan II Lomba Posyandu se-kalteng 5. Juara I Lomba Klinik Gigi se-kobar Kegiatan social 1. Pembagian kartu berobat gratis untuk keluarga kader kesehatan 2. Sunatan Massal 3. Pelayanan BPJS 2. Tata Ruang dan Pelayanan Puskesmas Semanggang Jenis Pelayanan A. Pelayanan Rawat Jalan 1. Poli Umum 2. Poli Gigi 3. Poli KIA/KB 4. Klinik Sanitasi 5. Klinik Gizi 6. Imunisasi B. UGD 24 jam C. Laboratorium D. Rawat Inap 1. Ruang VIP, Fasilitas : • 1 (satu) buah televise • 1 (satu) buah kulkas • Kamar mandi didalam • AC • 2 (dua) tempat tidur 2. Kelas I, Fasilitas : • 1 (satu) buah tempat tidur • Kamar mandi didalam • Televisi (TV) 10 channel • AC 3. Kelas II, Fasilitas : • 2 (dua) tempat tidur • Kamar mandi didalam • TV di Lobby 4. Kelas Ekonomi, Fasilitas : • 3 (tiga) tempat tidur • Kamar mandi • TV di Lobby 3. Struktur Organisasi Puskesmas Semanggang 4. Denah Puskesmas Semanggang B. Tinjauan Puskesmas Arut Selatan 1. Sejarah dan Perkembangan Puskesmas Arut Selatan Pada tahun 1932 Pemerintah kolonial Belanda membangun sebuah Rumah Sakit yang pertama kali di tengah kota Pangkalan Bun, karena perkembangan jaman tidak memungkingkan rumah sakit tersebut tetap di pertahankan karena l okasi yang kurang luas, maka pada akhir tahun 1980 terjadilah tukar tempat antara Puskesmas Arut Selatan dengan Rumah Sakit Umum. Dokter – dokter yang pernah bertugas sebagai pimpinan di Puskesmas Arut Selatan : 1. Dr. Gonta 2. Dr. Eddy Harmani 3. Dr. Sugeng Tanuwijaya 4. Dr. Sri Buwono 5. Dr. Bambang-Sugiarto 6. Dr. Churaerie Latief 7. Dr. Suryo Supraptono 8. Dr. Endang Woroastuti 9. Dr. Ach. Zainullah 10. Dr. Rasyid Al Harun 11. Dr. Budi Santoso 12. Dr. Pramujidto 13. Dr. H. Samsudin, M.Kes. 14. Dr. Desi Setiowati 15. Dr. Rita Wey Tahun 2010 mendapat sertifikat ISO 9001 : 2008. Yang pertam kali di Kalimantan Tengah. 2. Tata Ruang dan Pelayanan Puskesmas Arut Selatan 1. Poli umum Memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat umum sesuai dengan standar pelayanan medis yang ditetapkan. 2. Poli gigi Memberikan pelayanan kesehatan gigi bersifat umum maupun spesialistis sesuai dengan standar pelayanan medis. 3. Loket pendaftaran Loket Pendaftaran merupakan wajah pelayanan dimana seorang pasein akan melakukan kontak pertama kali dengan Puskesmas melalui Loket Pendaftaran.. 4. Poli lansia Memberikan pelayanan kesehatan kepada lansia yang bersifat umum sesuai dengan standar pelayanan medis yang ditetapkan 5. Apotek Menurut Keputusan Menkes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002 Apotek merupakan suatu tempat tertentu untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat. Definisi apotek menurut PP 51 Tahun 2009. Apotek merupakan suatu tempat atau terminal distribusi obat perbekalan farmasi yang dikelola oleh apoteker sesuai standar dan etika kefarmasian. 6. Laboratorium Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran atau pun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. 7. Poli KIA/KB Tempat mendapatkan pelayanan kesehatan terkait dengan ibu dan anak. Poli KIA diintegrasikan dengan poli KB sehingga pelayanan yang ada dalam poli KIA ada dua jenis yaitu, antenatal neunatus dan pelayanan KB. 8. Ruang Gizi Melayani pemberian Imunisasi, Vit.A dll 9. Ruang Tata Usaha Melayani Admistrasi, dan Pembuatan laporan 3. Struktur Organisasi Puskesmas Arut Selatan 4. Denah Puskesmas Arut Selatan BAB IV PEMBAHASAN DESKRIPSI TUGAS DI TEMPAT PRAKERIN A. Jenis-jenis kegiatan : a. Mengukur tekanan darah b. Menghitung nadi c. Mengukur suhu d. Menghitung respiration rate e. Mengganti alat tenun f. Mobilisasi pasien (dari kursi roda ketempat tidur / sebaliknya) g. Memandikan pasien h. Pengambilan darah vena i. Membantu pasien makan dan minum j. Melepas infuse (Up-infus) k. Pemberian obat IV (bolus & drip) l. Pemberian obat rectal m. Pemberian obat oral n. Perawatan infuse (dreasing infuse) B. Jurnal Kegiatan Harian C. Asuhan Keperawatan (ASKEP) di Puskesmas Semanggang Asuhan Keperawatan Diare A. Definisi Diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dan frekuensinya lebik banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensinya buang air besar sudah lebih dari 4kali. Sedangkan untuk bayi berumur lebih dari satu bulan dan anak, dikatakan diare bila frekunsinya lebih dari 3kali (Latief,dkk.2005). B. Etiologi Rotavirus merupakan etiologi paling penting yang menyebabkan diare pada anak dan balita.Ineksi rotavirus biasanya terdapat pada anak-anak umur 6bulan 2tahun (Suharyono,2008). Infeksi rotavirus merupakan infeksi nosokomial yang signifikan oleh mikroorganisme patogen.Salmonella, shigella dan Campylobacte merupakan bakteri patogen yang paling seringdiisolasi. Mikroorganisme Giardian Lamblia dan Cryptosporidium merupakan parasit yang paling sering menimbulkan diare infeksius akut (Wong,2009). Selain rotavirus,telah ditemukan juga virus baru yaitu Norwalk virus. Virus ini lebih banyak kasus pada orang dewasa dibandingkan anak-anak (Suhryono,2008). Kebanyakan mikroorganisme disebarluaskan lewat jalur Fekal-Oral melalui makanan, air yang terkontaminasi atau ditularkan antar manusia dengan kontak yang erat (Wong,2009). C. Klasifikasi a). Diare Akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15hari. Diare Akut biasanya sembuh sendiri, lamanya sakit kurang dari 14hari. b). Diare Kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15hari. (Wong,2009). D. Fisiologi  Saluran pencernaan manusia ; a. Mulut Makanan pertama kali masuk kedalam tubuh melalui mulut. Dan didalam mulut dicerna secara mekanis dan kimiawi. b. Kerongkongan Kerongkongan merupakan saluran penghubung antara mulut dan lambung. Sepertiga bagian atasnya tersusun atas otot lurik, dua pertiga bagian bawahnya tersusun atas otot polos. Kerongkongan menyalurkan makanan dari pangkal kerongkongan (Faring) ke lambung dalam waktu 6 detik. c. Lambung Makanan dari kerongkongan akan masuk ke lambung. Lambung merupakan pencernaan yang terletak di sebelah kiri rongga perut bagian atas dan tepat di bawah diagfragma. Lambung berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan sementara, lambung juga merupakan tempat mencerna makanan secara mekanis dan kimiawi. Lambung memiliki tiga bagian ,meliputi; -Kardia, awal yang berhubungan dengan kerongkongan. -Fundus, bagian tengah lambung yang membulat. -Pilorus, bagian ujung bawah lambung yang berhubungan dengan usus 12 jari serta iran alkali. d. Usus Halus : Usus halus terdiri dari 3 bagian mliputi : a. Usus dua belas jari (duodenum), panjangnya sekitar 0,25 meter b. Usus kosong (jejunum) panjangnya sekitar 7meter c. Usus penyerapan (ileum) panjangnya sekitar 1 meter Lapisan dalam dinding usus jejunum dan ileum mempunyai tonjolan-tonjolan halus yang di sebut jonjot usus (vili) yang berfungsi memperluas bidang penyerapan sari makanan. Di isidalam usus halus,kim bercampur dengan cairan empedu yang dihasilkan kantung empedu, getah pankreas, dan getah usus halus. e. Usus besar (kolon) Sisa makanan yang tidak diserap oleh usus halus akan diteruskan ke usus besar. Usus besar tidak memiliki vili sehinnga tadak terjadi penyerapan sari makanan, tetapi terjadi penyerapan air sehingga feses menjadi lebih padat. Pada kolon juga terjadi proses pembusukan sisa pencernaan oleh bakteri Eschericha Coli. f. Anus Anus merupakan bagian akhir sistem pencernaan yang berfungsi untuk lubang pengeluaran sisa pencernaan. E. Patofisiologi Dasar semua diare adalah gangguan transportasi larutan usus, perpindahan air melalui membran usus berlangsung secara pasif dan hal ini di temukan oleh larutan secara aktif maupun pasif,terutama natrium, klorida, dan glukosa. Dimana peningkatan cairan intra luminal menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis karena meningkatnya volume,sehingga motolitas usus meningkat. Sebaliknya bila waktu sentuh makanan dengan mukosa usus sehingga penyerapan elektrolit, air, dan zat-zat lain terganggu. Sehingga transport cairan dan elektrolit inrestinal tidak normal (Ulshen,2000). F. Pengkajian Nama Pasien : An. H Umur : 5 thn Jenis Kelamin : Perempuan Suku : Jawa Agama : Islam Jam Masuk : O9.30 Tangggal masuk : 10 Juli 2014 Tanggal Pengkajian : 10 Juli 2014 No.Ruangan : Vip2 Alamat : BJAP I Diagnosa medis : Diare Dehidrasi G. Riwayat kesehatan pasien Keluhan utama : BAB Cair 1. Riwayat penyakit sekarang Pasien datang dengan keluhan BAB encer ± 5 kali selama sehari, serta tidak nafsu makan. 2. Riwayat penyakit sebelumnya Ibu Pasien mengatakan sebelumnya demam, sudah berobat tapi belum ada perubahan. 3. Riwayat Keluarga Keluarga pasien tidak pernah mengalami penyakit yang sama. H. Pemeriksaan Keadaan umum : Pasien dalam keadaan lemas Suhu : 36,5 c Nadi : 64 x/mnt Berat badan : 13 kg Head toe-toe Kepala : Rambut tidak lurus, kasar Mata : Cekung Hidung : Bersih, tidak ada secret Telinga : Posisi sejajar kiri dan kanan, tidak ada secret Mulut : Bersih, bibir normal Abdomen : Abdomen bentuk soepel, simetris, warna sama dengan kulit sekitar. Kulit : Turgor kulit pada perut kembali lama I. Terapi medik  Injeksi : Inj. Ranitidine 15 mg/12jam(Mengurangi nyeri pada lambung) : Inj. Antrain 200 mg/12jam (Anti Nyeri)  Oral : Berlosid 3x setegah sendok 250 ml : L-Bio 1x1 bungkus J. Data Fokus DS : Ibu pasien mengatakan bahwa pasien sering BAB encer ± 5 kali selama sehari, serta tidak nafsu makan. DO : Suhu : 36,5 c Nadi : 64 x/mnt Berat Badan : 13 kg Pasien Nampak lemas K. Analisa Data Analisa Data Etiologi Masalah Keoerawatan DS : Ibu pasien mengatakan bahwa pasien sering BAB encer ± 5 kali selama sehari, serta tidak nafsu makan. DO : Suhu : 36,5 c Nadi : 64 x/mnt Berat badan : 13 kg BAB Berlebihan Gangguan Pencernaan DS : Ibu pasien mengatakan hari ini BAB 2x sehari. DO : Suhu : 36 c Nadi : 84 x/mnt Kekurangan Volume Cairan (Dehidrasi) Lemas • Diagnosa keperawatan : Ketidak seimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencerna makanan. • Pleaning : a. Anjurkan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan b. Lakukan Penkes PHBS c. Anjurkan banyak minum air putih d. Mengatur pola makan D. Asuhan Keperawatan (ASKEP) di Puskesmas Arut Selatan Asuhan Keperawatan Hipertensi A. Definisi Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. ( Smith Tom, 1995 ) Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar 95 mmHg ( Kodim Nasrin, 2003 ). Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan diastolic karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik ( Smith Tom, 1995 ). B. Penyebab Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : ( Lany Gunawan, 2001 ) a. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain Hiperrtensi primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita hipertensi, sedangkan 10 % sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa factor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Factor tersebut adalah sebagai berikut : a. Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi b. Ciri perseorangan Cirri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ), jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) dan ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih ). c. Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ), kegemukan atau makan berlebihan, stress dan pengaruh lain misalnya merokok, minum alcohol, minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin ) C. Patofisiologi Mekanisme yang mengontrol konnstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jarak saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua factor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. Untuk pertimbangan gerontology. Perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung ( volume sekuncup ), mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer ( Brunner & Suddarth, 2002 ). D. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : ( Edward K Chung, 1995 ). a. Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. b. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. E. Penatalaksanaan Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : 1. Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat ini meliputi : a. Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : a). Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr b). Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh c). Penurunan berat badan d). Penurunan asupan etanol e). Menghentikan merokok f). Diet tinggi kalium b. Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu : a). Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain b). Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. Denyut nadi maksimal dapat ditentukan dengan rumus 220 – umur c). Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan d). Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu c. Edukasi Psikologis Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi : a). Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan. b). Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks. d. Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. 2. Terapi dengan Obat Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita . Pengobatannya meliputi : 1. Step 1 : Obat pilihan pertama : 1) Diuretika 2) Beta blocker 3) Ca antagonis 4) ACE inhibitor. Step 2 : Alternatif yang bisa diberikan : 1) Dosis obat pertama dinaikan 2) Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama 3) Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator. Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh : 1) Obat ke-2 diganti 2) Ditambah obat ke-3 jenis lain Step 4 : alternatif pemberian obatnya 1) Ditambah obat ke-3 dan ke-4 2) Re-evaluasi dan konsultasi 3. Follow Up untuk mempertahankan terapi. Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut : a. Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya b. Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya c. Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh, namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas d. Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter e. Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu f. Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita g. Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi h. Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah i. Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari j. Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi k. Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal l. Usahakan biaya terapi seminimal mungkin m. Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih sering n. Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang ditentukan. Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi. F. Pengkajian Nama Pasien : Tn. S Umur : 64 thn Jenis Kelamin : Laki Laki Suku : Dayak Agama : Islam Pekerjaan : Tidak Bekerja Pendidikan : SMA Jam masuk : 09.00 Tanggal masuk : 25 Agustus 2014 Tanggal pengkajian : 25 Agustus 2014 Ruangan : Bp dewasa Alamat : Mendawai Diagnosa medis : Hipertensi G. Riwayat kesehatan pasien Keluhan utama : Pasien mengatakan tegang leher a. Riwayat penyakit sekarang Pasien mengatakan kurang tidur, pusing, nyeri otot (+), dan nyeri sendi (+). b. Riwayat penyakit sebelumnya Pasien mengatakan sebelumnya sudah minum obat hipertensi tapi belum ada perubahan. c. Riwayat Keluarga Keluarga pasien tidak pernah mengalami penyakit yang sama. H. Pemeriksaan Tekanan Darah : 180/100 mmHg Nadi : 76 x/mnt Respiration Rate : 18x/mnt Suhu : 36 c Berat badan : 63 kg Tinggi Badan : 167 cm Head toe-toe Kepala : Rambut lurus, beruban Mata : Penglihatan kurang Hidung : Bersih, tidak ada secret Telinga : Fungsi pendengaran kurang baik Mulut : Bibir pucat, mukosa bibir kering Abdomen : Tidak ada benjolan. Kulit : Turgor kulit baik I. Terapi medik  Oral : Amlodipin 5mg (0-0-1) : Paracetamol 3x1 500mg : Diazepam 2mg (0-0-1) J. Data Fokus DS : Pasien mengatakan kurang tidur, pusing, tegang leher, nyeri otot (+), dan nyeri sendi (+). DO : Tekanan Darah : 180/100 mmHg Nadi : 76 x/mnt Respiration Rate : 18x/mnt Suhu : 36 c Berat Badan : 13 kg K. Analisa Data Analisa Data Etiologi Masalah Keperawatan DS : Pasien mengatakan kurang tidur, pusing, tegang leher, nyeri otot (+), dan nyeri sendi (+). DO : TD : 180/100 mmHg BB : 63 kg Nadi : 76x/mnt RR : 18x/mnt Suhu : 36c Peningkatan tekanan vaskuler serebral pada region sub oksipital Nyeri akut : sakit kepala • Diagnosa Keperawatan : Nyeri (akut): Sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral pada region sub oksipital. • Pleaning : a. Menganjurkan untuk mengurangi makanan tinggi garam dan pengawet. b. Menganjurkan untuk menjaga Berat Badan (Tidak Berlebihan). c. Menganjurkan agar tidak merokok dan tidak minum alcohol. d. Menganjurkan untuk istirahat yang cukup. e. Menganjurkan olahraga secara teratur dan pola makan dijaga. f. Menganjurkan pemeriksaan tekanan darah secara teratur. BAB V A. Kesimpulan Selama saya melaksanakan praktek kerja industri (PRAKERIN), banyak pengalaman baru yang saya dapatkan dan belum pernah didapatkan dilingkungan pendidikan. Dari pengalaman yang ditemui selama praktek, saya bisa belajaar melakukan pekerjaan yang baik secara professional dalam bidang yang saya geluti, yaitu keperawatan, menerima komentar dan saran dari pembimbing lapangan untuk kebaikan saya dan teman-teman. B. Saran Saya melihat begitu banyaknya persaingan dalam dunia medis, untuk itu saya menyarankan kepada pihak sekolah agar menyiapkan tenaga terdidik terbaik yang dapat mempertanggung jawabkan pekerjaannya yang diberikan padanya sehingga kesalahan diperkecil. Untuk para guru pembimbing agar lebih memperhatikan kami praktek dilahan praktek, setidaknya seminggu sekali melihat kegiatan kami dilapangan. DAFTAR PUSTAKA Org . Wikipedia. Pengertian puskesmas Org . Wikipedia. Tugas puskesmas Depkes . 2001 . Fungsi puskesmas Patofisiologi.wordpress.com/2010/12/04/DIARE Growupclinic.com/2012/02/17/definisi-DIARE menurut WHO-2012 Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000 Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001 Sobel, Barry J, et all. Hipertensi : Pedoman Klinis Diagnosis dan Terapi, Jakarta, Penerbit Hipokrates, 1999 Kodim Nasrin. Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan, @ tempointeraktif.com, 2003 Smith Tom. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi, Bagaimana mengatasinya ?, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995 Semple Peter. Tekanan Darah Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta, Penerbit Arcan, 1996 Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC, 2002 Chung, Edward.K. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Edisi III, diterjemahkan oleh Petrus Andryanto, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1995 Marvyn, Leonard. Hipertensi : Pengendalian lewat vitamin, gizi dan diet, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995 Tucker, S.M, et all . Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, diagnosis dan evaluasi , Edisi V, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1998

Tidak ada komentar:

Posting Komentar